Kurikulum Deep Learning 2026: Apa Artinya bagi Orang Tua?

ilustrasi perbedaan surface learning dan deep learning dalam kurikulum pendidikan 2026

Rapor semester pertama tahun ajaran 2025/2026 sudah dibagikan. Namun sebagian orang tua mendapati sesuatu yang membingungkan: nilai anaknya tidak buruk, namun cara anak menjawab pertanyaan di rumah terasa berbeda dari yang biasa. Anak tidak lagi sekadar menjawab dengan hafalan, melainkan mulai menjelaskan mengapa sesuatu terjadi, bagaimana sesuatu bekerja, dan apa kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Sebagian orang tua merasa senang. Sebagian lagi merasa tidak yakin: apakah ini pertanda yang baik, atau anak mereka tidak cukup menguasai materi?

Kebingungan ini sangat wajar, dan ia adalah salah satu konsekuensi yang paling nyata dari perubahan besar yang sedang berlangsung dalam sistem pendidikan Indonesia. Pemerintah secara resmi memasukkan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning ke dalam kegiatan belajar mengajar tahun ajaran 2025/2026, dengan penerapan di sekolah dasar dan menengah sebagai upaya mengatasi rendahnya tingkat literasi siswa. Perubahan ini bukan perubahan kecil. Ia menyentuh sesuatu yang sangat mendasar dalam cara anak belajar, dan memiliki implikasi yang sangat konkret bagi cara orang tua mendukung proses belajar anak di rumah.

Bukan Teknologi AI: Meluruskan Kesalahpahaman Pertama

Ketika istilah “deep learning” pertama kali beredar di kalangan orang tua, reaksi pertama yang sangat umum adalah mengaitkannya dengan kecerdasan buatan dan teknologi komputer. Maklum, dalam dunia teknologi, deep learning memang merujuk pada salah satu cabang kecerdasan buatan yang paling canggih. Namun dalam konteks kebijakan pendidikan nasional Indonesia 2026, istilah ini membawa makna yang sama sekali berbeda.

Deep Learning dalam konteks pendidikan nasional membawa napas pedagogi yang jauh lebih dalam: sebuah upaya untuk menggeser fokus dari sekadar menghafal menjadi pemahaman yang substansial. Ia bukan program teknologi yang akan menggantikan guru dengan mesin, dan ia juga bukan kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka. Deep Learning yang diusulkan oleh Abdul Mu’ti tidak dimaksudkan untuk mengganti Kurikulum Merdeka, melainkan diposisikan sebagai pendekatan pembelajaran yang diutamakan.

Meluruskan kesalahpahaman ini penting karena ia mempengaruhi cara orang tua merespons perubahan yang sedang terjadi di sekolah anak mereka. Orang tua yang memahami bahwa deep learning adalah pendekatan pedagogis, bukan program teknologi, akan jauh lebih siap untuk memahami apa yang berubah dan bagaimana peran mereka dalam perubahan itu.

Tiga Pilar yang Menentukan Cara Anak Belajar

tiga pilar deep learning kurikulum nasional 2026 mindful meaningful joyful learning

Pembelajaran mendalam atau Deep Learning menitikberatkan pada pemahaman yang menyeluruh dan pengalaman belajar yang mindful, meaningful, dan joyful, melampaui metode konvensional yang hanya berorientasi pada hafalan fakta. Ketiga pilar ini bukan sekadar jargon pedagogis. Mereka mencerminkan pergeseran yang sangat fundamental dalam cara memandang proses belajar anak.

Mindful Learning adalah pembelajaran yang sadar dan penuh perhatian. Dalam pendekatan ini, siswa diajak untuk senantiasa sadar akan proses pembelajaran yang sedang ia jalani, memahami mengapa ia belajar sesuatu dan bagaimana ia belajar dengan cara terbaik baginya. Ini adalah dimensi metakognitif dari pembelajaran yang selama ini sangat jarang mendapat ruang dalam sistem hafalan konvensional.

Meaningful Learning adalah pembelajaran yang bermakna dan terhubung dengan kehidupan nyata. Meaningful learning diterapkan melalui kontekstualisasi pembelajaran dengan masalah lokal, sehingga apa yang dipelajari anak di sekolah memiliki relevansi yang dapat ia rasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-harinya. Ini adalah pergeseran yang sangat signifikan dari hafalan yang sering kali terasa abstrak dan tidak terhubung dengan realitas.

Joyful Learning adalah pembelajaran yang menyenangkan dan penuh keterlibatan. Ini bukan berarti belajar tanpa standar atau tanpa tuntutan. Ia berarti merancang pengalaman belajar yang memicu rasa ingin tahu, kreativitas, dan antusiasme anak secara intrinsik, bukan melalui tekanan eksternal semata.

Apa yang Berubah dalam Cara Orang Tua Melihat Kemajuan Anak

pergeseran tolok ukur kemajuan belajar anak dari hafalan ke pemahaman deep learning 2026

Perubahan ini tentu membawa tantangan tersendiri, terutama bagi orang yang terbiasa dengan pola pikir lama. Dengan pendekatan ini progres yang dimiliki anak tidak selalu terlihat dari banyaknya buku yang selesai dia habiskan. Ini adalah salah satu penyesuaian terbesar yang perlu dilakukan orang tua dalam merespons implementasi deep learning.

Selama bertahun-tahun, sebagian besar orang tua menggunakan indikator yang sangat visual dan mudah diukur untuk menilai kemajuan belajar anak: berapa halaman buku yang sudah selesai, berapa soal yang berhasil dikerjakan, berapa nilai yang diperoleh dalam ulangan. Indikator-indikator ini tidak hilang sama sekali dalam era deep learning, namun mereka tidak lagi menjadi satu-satunya, bahkan bukan lagi menjadi indikator utama dari pembelajaran yang sesungguhnya terjadi.

Indikator kemajuan yang lebih relevan dalam framework deep learning adalah seberapa baik anak dapat menjelaskan sesuatu dengan kata-katanya sendiri, seberapa mampu ia menghubungkan apa yang dipelajari di sekolah dengan fenomena yang ia amati dalam kehidupan sehari-hari, dan seberapa sering ia mengajukan pertanyaan yang menunjukkan bahwa ia benar-benar berpikir tentang apa yang dipelajarinya, bukan sekadar menerimanya.

Peran Orang Tua yang Lebih Besar dari Sebelumnya

Kemitraan pembelajaran membangun hubungan dinamis antara guru, murid, orang tua, komunitas, dan mitra profesional, sehingga kontrol pembelajaran berubah dari guru tunggal menjadi kolaborasi bersama. Pernyataan ini memiliki implikasi yang sangat konkret bagi orang tua: dalam framework deep learning, mereka bukan lagi penonton yang menunggu rapor untuk mengetahui perkembangan anak. Mereka adalah mitra aktif dalam ekosistem pembelajaran.

Ini adalah perubahan yang sangat signifikan dari model pendidikan konvensional di mana tanggung jawab pembelajaran hampir sepenuhnya didelegasikan kepada sekolah. Dalam model deep learning, sekolah tetap menjadi institusi utama, namun ekosistem belajar yang diharapkan jauh melampaui dinding sekolah. Percakapan di meja makan tentang apa yang dipelajari anak hari ini, kunjungan ke tempat-tempat yang relevan dengan tema pelajaran, dan proyek bersama yang menghubungkan pelajaran sekolah dengan kehidupan nyata keluarga, semuanya menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang diharapkan oleh pendekatan deep learning.

Bagi keluarga muslim, dimensi ini memiliki resonansi yang sangat kuat dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang sudah lama menekankan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau guru agama, melainkan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam QS. At-Tahrim: 6 bahwa orang tua bertanggung jawab untuk menjaga keluarga mereka. Dalam konteks pendidikan, tanggung jawab ini mencakup keterlibatan aktif dalam proses belajar anak, bukan sekadar memastikan anak berangkat ke sekolah setiap hari.

Memahami Perubahan Bukan Berarti Menyetujui Tanpa Pertanyaan

Sikap yang paling bijak bagi orang tua dalam menghadapi implementasi deep learning adalah sikap yang kritis namun terbuka. Kritis berarti tidak menerima begitu saja setiap perubahan kebijakan tanpa memahami dasarnya dan tanpa memantau dampaknya terhadap anak secara individual. Terbuka berarti tidak menolak perubahan hanya karena ia berbeda dari cara kita sendiri dulu belajar.

Penerapan Deep Learning dalam pendidikan di Indonesia tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan tuntutan abad ke-21. Tuntutan abad ke-21 yang dimaksud bukan hanya tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks, melainkan juga tuntutan untuk menjadi manusia yang mampu berpikir secara mendalam, bertindak secara etis, dan berkontribusi secara bermakna dalam masyarakat.

Bagi orang tua yang anaknya menjalani homeschooling atau model pendidikan nonformal yang lebih fleksibel, pemahaman tentang deep learning juga sangat relevan. Prinsip-prinsip mindful, meaningful, dan joyful learning bukan eksklusif milik sistem sekolah formal. Ia adalah prinsip pedagogis yang bisa dan seharusnya menjadi fondasi dari setiap ekosistem pembelajaran, termasuk ekosistem yang dirancang dan dikelola langsung oleh orang tua.


Bagi orang tua yang ingin memastikan anak mendapatkan pendidikan yang sejalan dengan prinsip pembelajaran mendalam dalam kerangka nilai Islam, PKBM Kamal Cendekia menyelenggarakan program Home Schooling Kamal Cendekia (HSKC) yang dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan belajar anak secara menyeluruh, personal, dan berbasis nilai.

📌 Informasi Program HSKC
📱 WhatsApp: 0877 7485 7330
✈️ Telegram: t.me/pkbmkamalcendekia
🌐 Website: www.kamal-shifaa.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top