Mei 2026. Di sebuah forum teknologi bergengsi di Jakarta, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Arif Jamali, menyampaikan pernyataan yang sangat tegas: “AI tidak bisa menggantikan guru dan tidak mampu menggantikan interaksi guru dan siswa, secanggih apa pun teknologi itu.” Pernyataan ini bukan sekadar retorika penenang bagi guru yang khawatir. Ia adalah posisi resmi pemerintah yang disampaikan di tengah realitas yang tidak bisa diabaikan: tingkat adopsi AI di Indonesia telah menyentuh angka 92% dalam hal pemanfaatan untuk produktivitas nasional, dan lebih dari 90% mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri menggunakan ChatGPT secara intensif dalam kegiatan akademik.
Dua realitas ini harus dibaca bersama-sama untuk dipahami dengan benar. AI memang tidak akan menggantikan guru. Namun AI juga tidak akan membiarkan peran guru tetap seperti sebelumnya. Yang sedang terjadi adalah sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar “digantikan atau tidak”: sebuah pergeseran fundamental tentang apa artinya menjadi seorang guru di era di mana mesin sudah mampu melakukan sebagian besar tugas teknis yang selama ini hanya bisa dilakukan oleh manusia.
Apa yang Sudah Bisa Dilakukan AI dalam Pendidikan
Untuk memahami apa yang tidak bisa dilakukan AI dalam pendidikan, perlu dipahami dulu apa yang sudah bisa dilakukannya. AI tidak lagi hanya sekadar chatbot asisten; ia telah bertransformasi menjadi “Guru Pintar” yang mampu mempersonalisasi materi, mengevaluasi pekerjaan, bahkan menciptakan kurikulum adaptif.
Kemampuan AI dalam pendidikan kini mencakup spektrum yang sangat luas. AI mampu membantu guru dalam menyusun bahan ajar, membuat evaluasi, hingga memberikan umpan balik secara real-time kepada setiap siswa secara individual, sesuatu yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh seorang guru yang harus menangani tiga puluh siswa sekaligus dalam satu kelas. AI juga mampu menganalisis pola belajar setiap siswa dan merekomendasikan materi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya saat itu.
Dari sisi administratif, AI mampu mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang selama ini menghabiskan sebagian besar waktu dan energi guru di luar jam mengajar: membuat laporan, mengoreksi soal pilihan ganda, merekap nilai, dan bahkan menyusun rencana pembelajaran berbasis data capaian siswa. Bagi pendidik, AI dapat membantu penyusunan materi, evaluasi pembelajaran, dan pengelolaan administrasi sehingga waktu dapat dimanfaatkan lebih optimal.
Tiga Dimensi yang Tidak Bisa Diambil Alih Mesin

Guru di masa depan akan bergeser menjadi fasilitator, pembimbing etika, dan desainer pengalaman belajar yang berfokus pada pengembangan keterampilan humanis seperti empati, kreativitas, dan berpikir kritis yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Ada tiga dimensi spesifik yang membentuk wilayah yang secara fundamental tidak bisa diambil alih oleh AI.
Dimensi pertama: Interaksi manusiawi yang membentuk karakter. Guru bukan hanya penyampai pengetahuan. Ia adalah manusia yang hadir secara penuh di hadapan siswa, yang merespons bukan hanya pertanyaan akademik tetapi juga kegelisahan, ketakutan, dan kebutuhan emosional siswa. Ketika seorang siswa kehilangan motivasi, menghadapi masalah keluarga, atau mengalami krisis kepercayaan diri, yang dibutuhkan bukan analisis data dari algoritma. Yang dibutuhkan adalah kehadiran seorang manusia yang peduli dan mampu merespons dengan empati yang tulus.
Dimensi kedua: Bimbingan etika dan pembentukan nilai. Peran guru tetap sangat penting dalam membimbing siswa agar mampu menggunakan AI secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Di era di mana AI bisa mengerjakan hampir semua tugas akademik, pertanyaan tentang integritas, kejujuran, dan tanggung jawab intelektual menjadi semakin krusial. Dan pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh seorang pendidik yang hadir sebagai model nilai, bukan oleh sistem yang bekerja berdasarkan pola data.
Dimensi ketiga: Keteladanan yang membentuk identitas. Dalam tradisi pendidikan Islam, guru bukan sekadar instruktur. Ia adalah murobbi, pembentuk jiwa yang hadir secara utuh dalam kehidupan murid. Keteladanan ini tidak bisa didigitalisasi. Ia hanya hadir dalam interaksi manusia dengan manusia, dalam momen-momen kecil yang tidak terencana di luar jam pelajaran, dalam cara seorang guru merespons situasi yang sulit dengan ketenangan dan kebijaksanaan.
Tantangan yang Justru Membutuhkan Guru yang Lebih Siap

Paradoks yang muncul dari kehadiran AI dalam pendidikan adalah bahwa ia tidak membuat kebutuhan akan guru yang berkualitas menjadi berkurang, melainkan justru semakin meningkat. Di balik kemudahan yang ditawarkan AI, tersimpan sebuah dilema besar dan ancaman senyap yang berpotensi menggerus kualitas intelektual generasi muda.
Ketergantungan yang berlebihan pada teknologi dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian siswa dalam menyelesaikan masalah. Selain itu, risiko plagiarisme dan penyalahgunaan AI untuk menyelesaikan tugas tanpa proses belajar yang sebenarnya menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.
Tantangan-tantangan ini tidak bisa diselesaikan oleh AI itu sendiri. Ia membutuhkan guru yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu membimbing siswa untuk menggunakan teknologi secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Ini adalah kompetensi pedagogis baru yang menuntut kualifikasi akademik yang memadai dan pemahaman yang mendalam tentang psikologi belajar di era digital.
Tantangan lainnya adalah kesenjangan akses teknologi. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas digital yang memadai. Di beberapa daerah, keterbatasan internet dan perangkat teknologi masih menjadi hambatan utama dalam pemanfaatan AI. Di sinilah peran guru yang hadir secara fisik dan personal menjadi sangat tidak tergantikan: sebagai jembatan antara potensi teknologi dan realitas keterbatasan yang masih sangat nyata di banyak daerah Indonesia.
Guru yang Tidak Beradaptasi Adalah Ancaman Nyata
Pernyataan bahwa AI tidak bisa menggantikan guru tidak boleh dibaca sebagai jaminan bahwa semua guru akan tetap relevan tanpa perubahan apapun. Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara belajar dan mengajar di dunia pendidikan. Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, peran guru dinilai tetap menjadi faktor utama dalam membentuk karakter, cara berpikir, hingga kesiapan generasi muda menghadapi masa depan.
Yang perlu dipahami dengan sangat jelas adalah bahwa yang tidak bisa digantikan oleh AI bukan “guru” sebagai jabatan atau status. Yang tidak bisa digantikan adalah dimensi-dimensi kemanusiaan yang menjadi esensi dari profesi guru yang sesungguhnya. Guru yang perannya selama ini hanya sebatas menyampaikan informasi dan mengoreksi pekerjaan, tanpa membangun relasi yang bermakna dengan siswa, tanpa membimbing perkembangan karakter, dan tanpa memfasilitasi pemikiran kritis, adalah guru yang perannya memang sudah bisa diambil alih oleh AI dengan lebih efisien.
Sebaliknya, guru yang memahami bahwa perannya yang paling esensial adalah dimensi kemanusiaan yang tidak bisa didigitalisasi, dan yang secara aktif mengembangkan kompetensinya untuk memainkan peran itu dengan lebih baik di tengah bantuan teknologi AI, adalah guru yang akan semakin relevan dan semakin dibutuhkan seiring dengan semakin canggihnya teknologi.
Investasi pada Kualifikasi adalah Investasi pada Relevansi
Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030, namun saat ini baru terpenuhi sekitar 25%. Kesenjangan ini adalah kesempatan yang sangat nyata bagi guru yang mau berinvestasi dalam pengembangan dirinya, baik melalui peningkatan kualifikasi akademik maupun peningkatan kompetensi digital yang relevan.
Guru yang memiliki kualifikasi akademik yang memadai, kemampuan untuk memahami dan memanfaatkan AI sebagai alat bantu, sekaligus kompetensi kemanusiaan yang dalam, adalah guru yang paling siap untuk menghadapi lanskap pendidikan yang terus berubah dengan sangat cepat. Di era di mana AI semakin canggih, investasi yang paling strategis bagi seorang guru bukan pada kompetensi yang bisa dilakukan lebih baik oleh mesin, melainkan pada dimensi-dimensi kemanusiaan yang justru semakin berharga ketika mesin semakin mengambil alih tugas-tugas teknis.
Bagi guru yang ingin memastikan kualifikasi akademiknya memenuhi standar yang diperlukan untuk tetap relevan di era AI, KASHIF membuka jalur konsultasi akademik untuk program S1 RPL dan S2 RPL yang terdaftar resmi di PDDIKTI. Kualifikasi yang tepat adalah fondasi untuk peran guru yang semakin strategis.
📌 Informasi Akademik KASHIF
📱 WhatsApp: 0877 7485 7330
✈️ Telegram: t.me/cskashif
🌐 Website: www.kamal-shifaa.com


