Tidur di Depan Pintu Demi Ilmu: Kisah Abdullah bin Abbas

ilustrasi klasik islam pemuda abdullah bin abbas menunggu di depan pintu demi menuntut ilmu

Ibnu Abbas menuturkan pengalamannya sendiri: “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpulang ke hadirat Allah, aku mengatakan kepada seorang Anshar, ‘Mari kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mumpung sekarang mereka masih banyak.'” Sahabat Anshar itu menolak, bahkan meragukan apakah ada orang yang masih membutuhkan ilmu dari seorang bocah berusia tiga belas tahun. Abdullah bin Abbas tidak menggubris. Ia pergi sendiri, dari pintu ke pintu, dari sahabat ke sahabat, mengumpulkan ilmu satu demi satu seperti seseorang yang mengumpulkan permata yang tersebar di seluruh penjuru kota. Wiz

Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah tentang seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang rajin belajar. Ia adalah cermin tentang apa yang sesungguhnya membentuk seorang manusia yang berilmu: bukan bakat bawaan, bukan fasilitas yang lengkap, dan bukan pula kemudahan akses. Yang membentuk Abdullah bin Abbas menjadi “Hibrul Ummah” atau Tinta Umat adalah sebuah kualitas yang jauh lebih sederhana namun jauh lebih langka: kegigihan yang tidak mengenal rasa malu untuk belajar dari siapapun, dalam kondisi apapun.

Tiga Belas Tahun dan Sudah Menjadi Rujukan

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, ilmu keislamannya sudah tinggi meski usianya saat itu baru 13 tahun. Angka ini perlu dibaca dengan pemahaman yang kontekstual. Tiga belas tahun pada masa itu bukan tiga belas tahun yang kita bayangkan dalam konteks modern. Namun yang jauh lebih penting dari usianya adalah cara ia menggunakan waktu yang dimilikinya.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang meletakkan fondasi keilmuan Abdullah bin Abbas. Ketika Abdullah bin Abbas menginap di rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyaksikan shalat malamnya, sepanjang malam ia terjaga. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terbangun, ia menyiapkan air untuk berwudhu. Melihat pemuda kecil ini sangat sigap, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terharu dan bangga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap rambut Abdullah bin Abbas sambil berdoa, “Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah dia tafsir kitab-Mu.”

Doa ini bukan sekadar berkah spiritual. Ia adalah pengakuan dari manusia paling mulia bahwa di depannya berdiri seorang pemuda yang layak mendapat ilmu yang paling dalam. Dan pengakuan itu tidak datang karena nasab atau kecerdasan semata, melainkan karena dedikasi yang sudah terlihat sejak usia sangat muda.

Tidur di Depan Pintu: Adab yang Membentuk Ilmu

moodboard tekstur menggambarkan kegigihan dan kesabaran menuntut ilmu seperti abdullah bin abbas

Suatu hari, Abdullah bin Abbas mengetahui ada hadits dari seseorang. Ia pun mendatangi pintunya. Ternyata orang tersebut sedang tidur siang. Ia pun beralas baju atasnya menunggunya di depan pintu. Angin meniupkan debu ke wajahnya. Lalu, setelah orang tersebut keluar dan melihatnya, dia berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, kebutuhan apa gerangan yang membuat Anda datang kepadaku?”

Perhatikan konteks dari kisah ini dengan sangat saksama. Abdullah bin Abbas pada saat itu bukan seorang anak yang tidak dikenal. Ia adalah sepupu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, figur yang sudah dikenal di kalangan sahabat. Ia bisa saja mengirim seseorang untuk meminta sang sahabat datang kepadanya. Ia bisa saja menunggu waktu yang lebih tepat. Namun ia memilih untuk datang sendiri, duduk di depan pintu, membiarkan angin menerbangkan debu ke wajahnya, demi satu hadits.

Kisah ini mengandung pelajaran yang jauh melampaui nilai kegigihan yang tampak di permukaannya. Ia adalah pelajaran tentang adab dalam menuntut ilmu: bahwa ilmu tidak datang kepada mereka yang merasa berhak mendapatkannya, melainkan kepada mereka yang rela merendahkan diri untuk menjemputnya. Baginya ilmu adalah sebuah mestika kehidupan yang mesti digali dan dicari walau di mana pun berada. Dan orang yang memiliki ilmu pengetahuan adalah manusia yang harus dihormati serta dihargai walaupun dia seorang budak sekalipun.

Tidak Ada Guru yang Terlalu Kecil, Tidak Ada Ilmu yang Terlalu Sedikit

perspektif dramatis perjalanan panjang menuntut ilmu seperti yang dilakukan abdullah bin abbas

Abdullah bin Abbas selalu menganggap guru kepada seseorang walaupun orang tersebut hanya memiliki satu hadits atau hanya dapat menjawab satu pertanyaan darinya. Prinsip ini adalah salah satu prinsip paling revolusioner dalam sejarah pendidikan Islam, dan ia lahir bukan dari teori pedagogis yang canggih, melainkan dari pengalaman nyata seorang pemuda yang haus ilmu.

Dalam budaya yang sangat menghargai hierarki sosial dan nasab, memilih untuk menganggap siapapun sebagai guru, termasuk mereka yang statusnya jauh di bawah statusnya sendiri, adalah pilihan yang membutuhkan kerendahan hati yang sangat besar. Namun justru kerendahan hati inilah yang menjadi salah satu rahasia terbesar di balik keluasan ilmu yang berhasil ia kumpulkan.

Prinsip ini memiliki relevansi yang sangat kuat dalam konteks pendidikan hari ini. Kita hidup di era di mana informasi tersedia di mana-mana dan dari siapa saja. Namun paradoksnya, semakin mudah akses terhadap informasi, semakin selektif dan semakin eksklusif cara orang memilih dari mana mereka mau belajar. Ada yang hanya mau belajar dari institusi tertentu, hanya dari gelar tertentu, hanya dari platform tertentu. Abdullah bin Abbas mengajarkan bahwa ilmu tidak mengenal hierarki sumbernya. Yang menentukan nilai sebuah ilmu bukan dari siapa ia berasal, melainkan seberapa benar ia dan seberapa bermanfaat ia.

Dari Tiga Belas Tahun Hingga Tujuh Puluh Satu: Tidak Pernah Berhenti

Abdullah bin Abbas, yang kemudian lebih dikenal dengan Ibnu Abbas, tampil menjadi ulama besar Islam. Sampai akhir hayatnya, di usia 71 tahun, ia tetap haus akan ilmu. Abu Hurairah menggambarkan kehilangan ini dengan ucapan, “Hari ini telah wafat ulama umat. Semoga Allah memberikan penggantinya.”

Lima puluh delapan tahun setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan Abdullah bin Abbas memulai perjalanannya dari pintu ke pintu, ia masih menuntut ilmu dengan semangat yang sama. Konsistensi ini adalah dimensi dari kisahnya yang paling jarang dibicarakan namun paling penting untuk dipahami.

Kegigihan belajar yang hanya berlangsung di awal, yang padam setelah mencapai posisi tertentu atau gelar tertentu, bukanlah kegigihan yang sesungguhnya. Kegigihan yang sesungguhnya adalah yang bertahan puluhan tahun, yang tidak padam oleh keberhasilan dan tidak dimatikan oleh usia. Dan itulah yang ditunjukkan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu sepanjang hidupnya.

Pelajaran yang Melampaui Zamannya

Kisah Abdullah bin Abbas bukan kisah yang relevan hanya untuk zamannya. Ia adalah kisah tentang prinsip-prinsip yang tidak berubah dalam proses pembentukan seorang manusia yang berilmu. Pertama, bahwa keseriusan dalam menuntut ilmu tidak bisa digantikan oleh fasilitas atau kemudahan akses. Kedua, bahwa adab kepada ilmu dan kepada mereka yang memiliki ilmu adalah fondasi yang menentukan seberapa jauh seseorang bisa melangkah dalam perjalanan keilmuannya. Ketiga, bahwa tidak ada batas usia untuk belajar, dan tidak ada sumber ilmu yang terlalu kecil untuk dihargai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Mujadilah: 11 bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Abdullah bin Abbas adalah bukti hidup dari janji ini, seorang pemuda yang memilih untuk membayar harga penuh dari ilmu yang ia inginkan, dan yang menuai hasilnya tidak hanya di dunia melainkan dalam warisan keilmuan yang masih dirasakan manfaatnya hingga hari ini.

Bagi yang ingin menempuh jalur pendidikan yang serius dan terstruktur dalam tradisi keilmuan Islam yang menghargai proses dan kesungguhan, KASHIF membuka program S1 RPL dan S2 RPL yang terdaftar resmi di PDDIKTI, dirancang untuk mereka yang sudah membangun kompetensi melalui pengalaman dan kini ingin melengkapinya dengan kualifikasi akademik yang sah.

📌 Informasi Akademik KASHIF
📱 WhatsApp: 0877 7485 7330
✈️ Telegram: t.me/cskashif
🌐 Website: www.kamal-shifaa.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top