Kita hidup di era di mana nilai sebuah institusi pendidikan seringkali menyusut menjadi sekadar angka statistik serapan tenaga kerja. Narasi yang mendominasi ruang publik, brosur penerimaan mahasiswa, hingga obrolan meja makan orang tua, nyaris seragam: “Kuliah di sini agar mudah dapat kerja.” Tanpa sadar, kita telah mereduksi universitas—yang secara etimologis bermakna ‘menyeluruh’—menjadi sekadar Balai Latihan Kerja (BLK) yang megah.
Pergeseran paradigma ini bukan masalah sepele. Ketika motif utama menuntut ilmu hanya untuk mengamankan posisi finansial (utilitarian), maka proses pendidikan kehilangan jiwanya. Mahasiswa mengejar IPK bukan sebagai manifestasi pemahaman, melainkan sebagai syarat administratif lamaran. Dosen mengajar bukan untuk membangun peradaban, melainkan sekadar menggugurkan kewajiban kurikulum.
Jebakan Pragmatisme Pendidikan
Fenomena ini melahirkan apa yang kita sebut sebagai “Intelektual Tukang”. Mereka sangat mahir dalam teknis operasional, hafal rumus, dan tangkas menggunakan perangkat lunak, namun gagap ketika berhadapan dengan masalah etika, kemanusiaan, atau kompleksitas sosial.
Pragmatisme mengubah “Kawah Candradimuka” menjadi jalur perakitan pabrik. Mahasiswa masuk sebagai bahan baku, diproses dengan hafalan teknis, dan keluar sebagai sekrup industri. Orientasi vertikal (karier/jabatan) membunuh orientasi horizontal (kemanfaatan/kearifan). Akibatnya, kita memanen sarjana yang gelisah; mereka memiliki pekerjaan, tetapi tidak memiliki tujuan hidup.

Reduksi Makna Al-Jami’ah
Dalam tradisi Islam, universitas sering berpadanan dengan istilah Al-Jami’ah yang berarti ‘yang mengumpulkan’. Kampus seharusnya menjadi ruang yang mengumpulkan berbagai disiplin ilmu untuk membentuk pandangan alam (worldview) yang utuh. Ia adalah tempat di mana logika matematika bertemu dengan kehalusan sastra, di mana hukum fisika berdialog dengan metafisika.
Jika kampus hanya berfungsi sebagai tangga karier, maka ia gagal memanusiakan manusia. Ia hanya mencetak robot biologis yang bekerja untuk survival, bukan growth (pertumbuhan). Pertumbuhan sejati menuntut perenungan, benturan pemikiran, dan keberanian untuk mempertanyakan status quo—hal-hal yang seringkali dianggap “tidak efisien” dalam logika industri.
Ilusi Kompetensi Tanpa Fondasi
Bahaya terbesar dari pola pikir ini adalah rapuhnya mentalitas lulusan. Ketika industri berubah (disrupsi), mereka yang hanya belajar “cara kerja” akan usang. Sebaliknya, mereka yang belajar “cara berpikir” (filosofi dasar) akan mampu beradaptasi.
Belajar secara parsial demi mengejar tren pasar membuat seseorang kehilangan akar. Kita melihat banyak profesional muda yang sukses secara materi namun mengalami krisis eksistensi akut. Ini adalah bukti bahwa tangga karier, setinggi apa pun itu, tidak pernah bisa menggantikan kepuasan batin dari pertumbuhan intelektual dan spiritual.

Mengembalikan Ruh Pendidikan
Sudah saatnya kita meninjau ulang definisi “sukses” dalam pendidikan. Apakah sukses itu sekadar kartu nama dengan jabatan mentereng? Ataukah kemampuan untuk memandang dunia dengan bijak dan memberikan solusi bagi permasalahan umat?
KASHIF memandang pendidikan bukan sebagai transaksi jual-beli ijazah. Kami meyakini bahwa kompetensi profesional (karier) adalah dampak logis—bukan tujuan akhir—dari kematangan berpikir. Melalui pendekatan kurikulum yang menyeimbangkan hard skill dan pemahaman mendalam, KASHIF mengajak pembelajar untuk tidak sekadar menaiki tangga, tetapi memperluas cakrawala.
Jangan biarkan potensi akal Anda kerdil hanya demi selembar kertas pengesahan kerja. Jika Anda mencari ruang tumbuh yang sesungguhnya.
📌 Informasi Akademik KASHIF
📱 WhatsApp: 0877 7485 7330
✈️ Telegram: t.me/cskashif
🌐 Website: www.kamal-shifaa.com
